Talk on the Wild Side: Kosuke Kawamura and Tadanori Yokoo
Apr 18, 2025
UT
Kosuke Kawamura: Saya pertama kali melihat karya Yokoo saat saya masih SMA, dan itu merupakan sebuah pencerahan bagi saya. Saya menabung sejumlah uang yang saya terima sebagai hadiah tahun baru dan membeli bukunya, Yearning for Millennium(1974), yang menampilkan teknik kolase yang menjadi inspirasi besar bagi karya awal saya.
Tadanori Yokoo: Wah, tanggung jawab saya besar sekali! [tertawa]. Saya menerbitkan buku seni itu menjelang akhir karier saya sebagai desainer. Saya telah menjadi desainer grafis profesional selama sekitar 25 tahun sebelum beralih ke seni lukis pada tahun 1981, dan sudah lebih dari 40 tahun sejak saat itu, jadi karier saya sebagai pelukis telah berlangsung lebih lama.
KK: Apakah Anda masih menerima pekerjaan desain saat ini?
TY: Saya menerimanya kadang-kadang. Saat ada pameran di museum saya di Kobe (Yokoo Tadanori Museum of Contemporary Art), sayalah yang akan membuat posternya. Saya juga mendesain sampul CD untuk para musisi. Baru-baru ini, saya bertanggung jawab atas karya seni untuk pameran BUCK-TICK Exhibition 2025. Saya menerima satu atau dua pesanan seperti itu setiap tahun.
KK: Selain itu, apakah Anda melukis setiap hari?
TY: Tidak, kalau saya melukis setiap hari, saya akan mati. [Tertawa.] Saya berkarya sambil memastikan untuk beristirahat.
KK: Apakah ada perbedaan antara proses kreatif Anda sebagai desainer grafis dan seniman?
TY: TSisi kreatifnya masih sama, tetapi bagian yang ditunjukkan pada publiklah yang berbeda. Anda dapat membuat karya seni sesuai keinginan Anda, sementara karya desain sering kali memiliki klien, dan ada banyak batasan dan ketentuan seputar apa yang Anda buat, karena tujuan akhirnya adalah untuk mempromosikan produk dan mendorong penjualan. Desainer harus tahu cara menarik orang ke produk dan cara menjadi cerdik — jika Anda mendesain iklan persis seperti yang dikatakan klien, produk tersebut tidak akan laku [tertawa]. Itulah sebabnya saya tidak tertarik memahami desain grafis dari sudut pandang "formal" saat saya masih muda.
KK: Saya mengerti maksud Anda.
TY: Jadi, pada saat itu, saya jarang menerima komisi dari perusahaan. Saya lebih banyak mengerjakan proyek budaya yang terkait dengan teater, film, dan musik. Tokoh-tokoh seperti (Shuji) Terayama, (Juro) Kara, dan Tatsumi Hijikata adalah klien utama saya. Karena mereka juga adalah creator, kolaborasi berjalan sangat lancar. Tidak seorang pun pernah meminta revisi pada karya saya.
KK: Itu luar biasa.
TY: Mereka mungkin berpikir bahwa karya saya tidak biasa. [Tertawa]. Namun, karena kami bergerak di bidang kreatif kami sendiri, mereka menerima apa yang saya sampaikan tanpa bertanya. Di sisi lain, sponsor dalam industri periklanan bukanlah creator. Mereka hanyalah klien.
KK: Saya sangat paham. Jadi, saat itu pun, Anda mendesain grafis dengan kepekaan yang sama seperti saat Anda menciptakan karya seni.
TY: Karena Anda menyebutkannya, mungkin itu benar.
KK: Begitu ya, dan sekarang saya paham mengapa saya merasakan energi yang begitu kuat saat melihat karya Anda saat remaja. Saya memulai karier sebagai seniman setelah SMA, tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah teknik atau universitas. Saya bahkan lebih terkesan dengan kehidupan dan cara berpikir Anda setelah membaca autobiografi Anda. Saya juga sangat yakin Anda akan terus berkarya dengan bebas setelah sekian lama.
TY: Kebebasan itu sulit dicapai. Kita semua menyimpan hasrat dan obsesi. Jika Anda tidak dapat membebaskan diri dari ego, Anda tidak dapat menyalurkan energi ke dalam karya Anda. Pendekatan yang paling efektif untuk meningkatkan seni Anda adalah dengan mengesampingkan hasrat untuk ketenaran atau kekayaan. Sebaliknya, fokuslah untuk menanamkan apa yang benar-benar ingin Anda ekspresikan ke dalam karya Anda. Orang-orang teater, film, dan musik yang kami sebutkan sebelumnya semuanya sedang berjuang secara finansial, sehingga sering kali pembayaran tidak kunjung datang. Jadi, meskipun saya ingin mendapatkan uang, saya tidak bisa. [Tertawa.] Tidak ada ruang untuk mempertahankan hasrat materialistis.
KK: Itu wawasan yang mendalam. [Tertawa.] Itulah sebabnya karya Anda selalu hebat.
TY: Banyak orang mungkin mencari kesuksesan finansial atau pengakuan yang lebih besar, tetapi saya tidak percaya orang-orang yang bekerja dengan saya terpaku pada hasil tersebut. Mereka hanya fokus dengan apa yang ingin mereka lakukan saat itu.
KK: Jadi, berfokus pada seni Anda sendiri adalah prioritas utama.
TY: Saya tidak begitu mengenal generasi muda saat ini karena saya tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Namun, ketika saya masih muda, belum ada standar sosial yang ditetapkan, jadi segala sesuatunya tampak mungkin.
KK: Maksud Anda batasan sosial tidak seketat itu?
TY: Mungkin ada beberapa, tetapi batasan-batasan itu dilawan oleh kaum ekspresionis bebas, sehingga memunculkan sesuatu seperti sistem baru yang diciptakan oleh para seniman itu sendiri.
KK: Kedengarannya seperti zaman keemasan bagi para seniman.
TY: Itu adalah masa emas, tetapi satu kesalahan dapat menempatkan Anda dalam situasi hidup dan mati.
KK: Memang, setelah pemulihan pascaperang, tahun 1960-an merupakan titik balik utama baik secara sosial maupun budaya. Saya lahir pada tahun 1979, jadi pemahaman saya tentang era itu berasal dari perspektif sejarah. Namun, saya sangat dipengaruhi oleh seni, grafis, dan musik yang muncul dari budaya psikedelik tahun 60-an.
TY: Terdapat perbedaan mendasar antara budaya Barat dan Jepang pada tahun 60-an. Budaya psikedelik Amerika dan Eropa secara intrinsik dipengaruhi oleh zat-zat psikoaktif. Di Jepang, unsur itu tidak ada, sehingga sebagian besar ekspresi agak dangkal. Pada akhirnya, seni autentik hanya muncul dari pengalaman hidup.
KK: Apakah Anda traveling ke luar negeri saat itu?
TY: Saya pergi ke New York pada tahun 1967. Itu adalah tahun yang luar biasa karena The Beatles merilis "Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band" dan "Magical Mystery Tour."
KK: Wah, sungguh tahun yang luar biasa!
TY: Saat berada di New York, saya menonton pertunjukan Cream dan itulah pertunjukan pertama di mana saya mengenal musik rock secara langsung.
KK: Apa?! Kamu lihat Cream tampil langsung?
TY: Cream tidak terlalu terkenal di New York waktu itu, tetapi saya mendengar rumor bahwa sebuah band yang bahkan lebih hebat daripada The Beatles akan datang dari London, jadi saya pergi untuk menonton mereka. Eric Clapton dan Ginger Baker sedang tampil. Tentu saja, saya tidak tahu nama mereka saat itu. Selama pertunjukan itu, Clapton tiba-tiba meletakkan gitarnya dan meninggalkan panggung. Saya bertanya-tanya apa yang telah terjadi, tetapi ternyata dia pergi ke kamar kecil, lalu kembali dan melanjutkan permainan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. [Tertawa.]
KK: Itu benar-benar momen bersejarah. [Tertawa.] Berapa banyak orang yang hadir?
TY: Sekitar 20 atau 30, sepertinya. Tidak ada kursi di tempat itu, hanya tikar yang dibentangkan di lantai. Semua orang duduk di atasnya sambil mendengarkan musik mereka. Saat itu sedang era Perang Vietnam, jadi anak-anak muda yang menghindari wajib militer berkumpul di sana.
KK: Jadi pada dasarnya itu adalah perkumpulan kaum hippie yang menghindari dinas militer, benar?
TY: Ya. Saya kemudian mengunjungi distrik Haight-Ashbury di San Francisco tahun berikutnya, tetapi saat itu budaya hippie sudah hampir menghilang. Ada sedikit suasana itu tertinggal di jalan-jalan, tapi... rupanya George Harrison telah berparade di jalan-jalan dengan prosesi "anak-anak pembawa bunga" tahun sebelumnya, namun saat itu saya sedang di New York, jadi saya tidak dapat melihatnya.
KK: Tetap saja, ini adalah pengalaman yang sangat berharga... Ngomong-ngomong, apakah perjalanan Anda ke New York untuk bekerja?
TY: Tidak, saya diwawancarai tanpa henti oleh sebuah majalah tertentu, yang membuat saya sangat lelah. Jadi saya memutuskan untuk keluar dari Jepang untuk sementara waktu. Awalnya, saya berencana untuk tinggal di New York dan Eropa masing-masing selama 10 hari dan telah membeli tiket pesawat. Namun setelah tiba di New York, saya berubah pikiran, merobek tiket, dan akhirnya tinggal di sana selama empat bulan.
KK: Itu sangat punk. [Tertawa.] Saya punya teori pribadi bahwa Anda sebenarnya adalah pelopor punk Jepang.
TY: Itu tidak benar. Namun sekarang setelah saya ingat, ketika saya pertama kali bertemu David Bowie, (dia mengatakan bahwa) dia memiliki katalog karya seni saya.
KK: Bukannya Bowie adalah fans berat Anda?
TY: Bowie bilang pada saya, "Saya bertemu punk untuk pertama kalinya". Ketika saya bertanya di mana pertemuan ini terjadi, dia menjawab, "Di dalam buku ini".
KK: Luar biasa. Saya selalu merasakan hal yang sama seperti Bowie terhadapmu.
TY: Namun, saya sama sekali tidak mengenal punk. Saya menonton pertunjukan langsung band punk di New York dan Berlin, tetapi lagu-lagu mereka hanya bertahan satu atau dua menit. Mereka akan naik ke panggung dan segera menyelesaikan pertunjukan. [Tertawa.] Lalu saya berpikir, "Baiklah, ini punk."
KK: Sungguh mengesankan bahwa Anda menyaksikan pertunjukan-pertunjukan itu. [Tertawa.] Sebelum gerakan punk muncul sepenuhnya, ada band-band pionir seperti The Stooges dan The Velvet Underground.
TY: Namun, Andy Warhol adalah pusat dari semua itu. Seperti yang Anda ketahui, Warhol adalah seorang seniman. Saat itu, terdapat batasan yang jelas antara seni dan desain di Amerika, dan hampir tidak ada interaksi antara seniman dan desainer.
KK: Begitu ya.
TY: Di Jepang, seniman dan desainer berinteraksi secara bebas dengan berbagai individu, tetapi di Amerika, pertukaran semacam itu tidak ada. Seniman memandang rendah desainer. Namun, Warhol awalnya adalah seorang desainer seperti saya. Dia menyembunyikan masa lalu profesionalnya sebagai desainer agar dapat beralih ke peran sebagai seniman. Warhol tidak pernah mengakui bahwa dia sebelumnya bekerja sebagai desainer komersial atau ilustrator. Jika dia terus menjadi desainer atau ilustrator sambil menciptakan karya sablon khasnya, karya-karya itu tidak akan dianggap sebagai karya seni. Karena Warhol menciptakan karya-karya itu dengan identitas seorang seniman, karya-karya itu tetap diakui sebagai karya seni. Namun menurut saya, karya-karyanya sebenarnya lebih mewujudkan prinsip-prinsip desain daripada prinsip-prinsip artistik.
KK: Sekarang setelah Anda menyebutkannya, saya mengerti maksud Anda.
TY: Ia pada dasarnya adalah seorang desainer, tetapi berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang desain saat menyusup ke dunia seni. Seseorang harus sangat cerdik untuk berhasil di New York dengan menggunakan taktik semacam itu.
KK: Begitu ya. Jadi Anda bertemu Warhol di New York pada tahun 1967?
TY: Sebelum pergi ke Amerika, saya berkenalan dengan seorang penulis Amerika di Jepang yang mengaku mengoleksi poster-poster saya. Jadi, saya pergi ke New York untuk menemui penulis ini lagi. Ternyata, dia adalah teman Andy Warhol dan memberi tahu saya bahwa Warhol telah mengunjungi kediamannya sehari sebelum kedatangan saya dan telah menyatakan minatnya yang besar terhadap karya saya. Jadi, tentu saja, kami sepakat untuk mengunjungi Factory bersama-sama.
KK: Jadi Anda bertemu Warhol segera setelah tiba di New York! Apakah Anda tidak punya foto pertemuan itu?
TY: Saya tidak membawa kamera. Namun, pengalaman bertemu dan mendengar Warhol masih terekam jelas dalam ingatan saya. Jika Anda memiliki kamera, Anda akan mengembangkan perspektif jurnalistik yang agak terpisah, jadi saya biasanya menghindari mengambil foto selama momen-momen itu. Namun, ketika saya memberi tahu orang lain bahwa saya telah bertemu Warhol, saya menyadari bahwa saya tidak memiliki bukti nyata. [Tertawa.]
KK: Memang, seperti Anda sarankan, pengalaman hidup memiliki makna yang lebih besar.
TY: Dalam seminggu setelah tiba di New York, saya bertemu Warhol, dan kemudian—berturut-turut—bertemu seniman Amerika terkemuka, termasuk Jasper Johns, Robert Rauschenberg, dan Tom Wesselmann. Saya tidak berniat bertemu orang-orang ini sebelum perjalanan, tetapi saya merasa terhubung dengan mereka semua hampir secara bersamaan.
KK: Anda jelas dibimbing oleh suatu kekuatan yang tak terlihat... Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ketika saya membaca autobiografi Anda, saya merasakan bahwa seluruh lintasan hidup Anda telah diarahkan oleh tangan yang tak terlihat.
TY: Setiap orang mengalami saat-saat dituntun oleh takdir. Tidakkah Anda terkadang merasakannya? Yang saya butuhkan saat itu justru pertemuan-pertemuan ini.
KK: Benar sekali. Ada begitu banyak desainer grafis di seluruh dunia, tetapi saya selalu percaya bahwa Anda menempati ranah yang sama sekali berbeda. Setelah mendengar cerita Anda hari ini, saya yakin saya mengerti alasannya. Pertama kali saya mengenal karya Anda adalah ketika saya menemukan poster Koshimaki-Osen (1966) di sebuah majalah. Saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang desain, tetapi poster itu memberi dampak yang luar biasa bagi saya. Saya pikir poster itu luar biasa.
TY: Saya masih merasa bahwa saya tidak dapat melampaui poster Koshimaki-Osen. Itu terwujud hampir secara kebetulan yang membahagiakan.
KK: Saya yakin tidak ada karya seni lain di dunia yang melebihi kualitas poster itu.
TY: Pada tahun 1972, saya mengadakan pameran tunggal di MoMA (Museum of Modern Art in New York), dan saya diberitahu bahwa kartu pos terlaris di toko museum tahun itu didasarkan pada karya Henri de Toulouse-Lautrec, dengan Koshimaki-Osen di posisi kedua.
KK: Jadi karya itu benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa.
TY: Akibatnya, Koshimaki-Osen telah menjadi seperti kartu nama, dan terkadang saya merasa dibatasi olehnya—seolah-olah saya dipaksa untuk beroperasi dalam batasan yang mencegah saya untuk melampauinya. Seolah-olah saya dibatasi oleh kreasi saya sendiri, menerima arahan tersirat untuk tidak menghasilkan sesuatu yang lebih unggul. Saya tidak punya niat untuk melakukannya—saya rasa saya tidak dapat menciptakan sesuatu seperti itu lagi. [Tertawa.]
KK: Hidup saya sendiri juga ditentukan oleh Koshimaki-Osen. [Tertawa.] Seolah-olah saya menerima instruksi khusus dari karya itu yang mengarahkan gerakan saya, seperti sedang dikendalikan di telapak tangan Buddha. Sangat terpengaruh oleh dampak Koshimaki-Osen dan kemudian oleh autobiografi Anda, saya memutuskan untuk melepaskan kendali diri.
TY: Lebih baik hindari kontrol yang berlebihan. Tindakan mengontrol pada dasarnya melibatkan pembentukan harmoni internal. Namun, seni kehilangan daya tariknya jika tidak memiliki unsur ketidakharmonisan.
KK: Saya lega mendengarnya. Saya yakin bahwa pertemuan kita hari ini merupakan puncak dari cara hidup saya, yaitu menjalani hidup dengan alur yang diatur di luar pemahaman saya. Saat ini, saya menjabat sebagai creative director di UT, tetapi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya menemukan UT melalui T-shirt yang menampilkan karya Anda Landscape with Glasses and a Hat (1965). Saya benar-benar membelinya dan hampir selalu memakainya.
TY: Landscape with Glasses and a Hat predates Koshimaki-Osen. Saya membuatnya saat saya berusia sekitar 29 tahun. Saat itu, Yukio Mishima menyukai lukisan itu dan menyatakan keinginannya untuk memilikinya. Lukisan asli tersebut masih dimiliki oleh putra Mishima hingga saat ini.
KK: Menarik sekali. Ngomong-ngomong, Anda pernah menjadi juri untuk UNIQLO Creative Award 2005, benar? Jika Anda memiliki kriteria khusus saat mengevaluasi desain T-shirt, apakah Anda bersedia membagikannya kepada kami?
TY: Itu sangat bergantung pada kondisi pikiran saya. [Tertawa.] Kondisi fisik dan suasana hati Anda berfluktuasi setiap hari, bukan? Itulah fisiologi dasar manusia. Saya mungkin akan memilih pekerjaan yang sama sekali berbeda pada hari berikutnya. Dan itu sepenuhnya dapat diterima.
KK: Itu menarik. Jadi pada dasarnya Anda mengandalkan intuisi? Mungkin filosofi ini berlaku secara universal.
TY: Ada baiknya untuk meminimalkan pemikiran berlebihan. Ambil persimpangan Y sebagai contoh ilustrasi dan bayangkan Anda harus memutuskan untuk maju ke kanan atau ke kiri. Jika Anda sudah tahu bahwa ke kanan akan mengakibatkan kerugian sementara ke kiri akan menghasilkan keuntungan, kebanyakan orang akan memilih ke kiri (keuntungan). Namun, keuntungan langsung mungkin pada akhirnya terbukti merugikan dalam jangka panjang. Sebaliknya, jalan menuju kerugian langsung mungkin mengarah pada keuntungan yang tidak terduga. Bagaimana jika memilih jalan yang benar terbukti lebih menguntungkan pada akhirnya?
KK: Itu sangat filosofis…
TY: Orang-orang dengan penilaian konvensional menggunakan pemikiran analitis, mengevaluasi segala sesuatu menurut metrik untung rugi, atau baik dan buruk. Namun, pendekatan seperti itu pada dasarnya keliru. Tidak menghakimi merupakan kondisi pikiran yang terpisah dari pertimbangan-pertimbangan ini. Seni dan desain berkembang pesat dalam kondisi tidak menghakimi. Rasionalisasi yang berlebihan menghambat terciptanya karya-karya yang bermakna. Produksi yang diperhitungkan hanya memuaskan sponsor. [Tertawa.]
KK: Seni yang sungguh menakjubkan tidak dapat muncul melalui perhitungan saja.
TY: Jika desainer menciptakan karya hanya untuk memuaskan sponsor karena motivasi finansial, mereka pasti mengurangi nilai kreatif mereka sendiri.
KK: Saya sungguh-sungguh menghormati dan mendapat inspirasi dari para seniman dan desainer yang telah membangun gaya khas mereka sendiri tanpa mengutamakan pertimbangan komersial.
TY: Sebaiknya hindari mempelajari teori desain. Kegiatan akademis semacam itu hanya menumbuhkan kecerdasan intelektual.
KK: Jadi kepintaran itu sendiri menjadi suatu hambatan.
TY: Saya telah menerbitkan buku berjudul Berlatih Menjadi Orang Bodoh, karena desainer pada dasarnya harus menerima kebodohan. (Tertawa.) Tapi merangkulnya bukan berarti sembarangan—tidak ada ruang untuk kompromi. Kompromi justru menjadikannya kebodohan semata, bukan kebodohan yang tercerahkan. Seorang 'fool' sejati berdiri di ambang ketuhanan. Aku mendorongmu untuk mengejar kebodohan hingga ke tingkat yang paling mendalam itu.
KK: Memang, saya akan mendedikasikan diri untuk merangkul kebodohan yang menyeluruh. [Tertawa.] Kembali ke topik mode, Anda telah bekerja sama dengan berbagai merek pakaian. Apakah ada prinsip khusus yang Anda terapkan saat mendesain untuk entitas komersial tersebut?
TY: Dalam kolaborasi ini, merek akan memilih karya yang sudah ada yang mereka sukai, jadi saya mungkin tidak secara sadar mendekati proyek tersebut dengan maksud desain tertentu.
KK: Jadi Anda tidak membuat grafis khusus untuk pakaian?
TY: Baru-baru ini, saya membuat grafis original untuk lini T-shirt Duran. Namun, saya belum banyak mengerjakan proyek serupa sejak saat itu.
KK: Itu cukup penting. [Tertawa.] Apakah Anda punya preferensi khusus terkait pilihan outfit pribadi Anda? Saya perhatikan Anda selalu mengenakan barang-barang Chrome Hearts selama beberapa tahun ini saat tampil di media, dan hari ini tidak terkecuali.
TY: Saya berteman dengan presiden perusahaan itu. Barang-barang mereka memiliki harga yang sangat tinggi, bukan? Ketika saya membuat karya seni untuk mereka, mereka selalu mengirimi saya barang-barang baru. [Tertawa.]
KK: Itu memang patut dibanggakan. [Tertawa.] Anda memiliki banyak penggemar di kalangan selebriti internasional. Sepengetahuan saya, KAWS adalah kolektor karya Anda yang sangat antusias.
TY: Saya menerbitkan sebuah buku beberapa tahun yang lalu, yang pada dasarnya merupakan kompilasi karya kolase saya (Kolase Tadanori Yokoo: 1972-2012), dan setiap karya yang ditampilkan dalam publikasi tersebut adalah milik KAWS. Ia mungkin memiliki sekitar 250 karya. Yang membuat KAWS penasaran adalah, meskipun memiliki koleksi karya saya yang sangat banyak, pengaruh karya-karya tersebut tetap tidak terlihat dalam hasil karya seni KAWS sendiri.
KK: Itu benar.
TY: Jika ia mengambil inspirasi dari elemen gaya saya dan menuangkannya ke dalam karya-karyanya sendiri, itu akan membahayakan integritas artistiknya. Melalui mempelajari karya-karya saya, ia telah mengembangkan estetika uniknya yang beresonansi dengan audiens yang lebih muda, yang saya anggap sebagai bakat tersendiri. Saya menghormati pendekatannya dalam hal ini. Ketika saya mengadakan pameran tunggal di New York, KAWS cenderung membeli semua karya di sana, mencegah kolektor lain untuk membelinya. Jadi terkadang terasa seolah-olah saya berkarya khusus untuknya. [Tertawa.]
KK: Rasanya seperti Anda telah menjadi seniman pribadinya. [Tertawa.] Meskipun demikian, saya percaya karya Anda layak mendapatkan kepemilikan yang lebih luas.
TY: Benar. KAWS rupanya juga mengoleksi karya banyak seniman lain, jadi mungkin ia akhirnya bermaksud mendirikan museum.
KK: Itu tampaknya masuk akal. Meskipun memperoleh karya seni asli masih menjadi kendala finansial bagi kebanyakan orang, barang-barang fashion seperti T-shirt menawarkan kepemilikan yang mudah diakses dan meningkatkan visibilitas di antara beragam audiens pada saat yang sama. Mohon pertimbangkan untuk bekerja sama dengan UT. [Tertawa.] Terakhir, dapatkah Anda berbagi proyek mendatang Anda?
TY: Dimulai pada bulan April, saya akan mengadakan pameran tunggal bertajuk the River of Renga di Setagaya Art Museum (in Tokyo). Saya baru saja menyelesaikan beberapa karya seni yang akan dipamerkan dalam pameran ini.
KK: Berapa banyak karya yang akan ditampilkan?
TY: Sekitar 60 karya, sebagian besar pada kanvas ukuran 150, termasuk karya tambahan dalam format ukuran 100 dan 10. Semuanya adalah kreasi baru yang diproduksi dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir.
KK: Itu jumlah yang mengesankan untuk satu tahun. Dorongan kreatif Anda jelas tidak berkurang.
TY: Ini adalah perjuangan yang terus berlanjut dengan kanvas di depan saya, menentukan bagaimana cara mendekati setiap permukaan. Terkadang, saya bertanya-tanya, apakah saya yang melukisnya atau justru kanvas yang mengarahkan tangan saya. Ini menggambarkan siklus keterlibatan yang terus berlanjut. Ada kepuasan yang mendalam dalam proses ini, yang sebagian besar memenuhi kebutuhan eksistensial saya, meninggalkan sedikit keinginan lainnya.
KK: Anda benar-benar mewujudkan pendekatan yang berwawasan ke depan. Saya tidak sabar untuk melihat lebih banyak hasil karya kreatif Anda. Saya menantikan pameran terbaru di bulan April!
Tadanori Yokoo
Seniman. Lahir di Prefektur Hyogo pada tahun 1936. Menggelar pameran tunggal di Museum of Modern Art, New York, pada tahun 1972. Ia kemudian menggelar pameran tunggal di museum-museum internasional di seluruh dunia. Ia terpilih menjadi anggota Hall of Fame, New York ADC, pada tahun 2000. Di antara sekian banyak penghargaan yang diterimanya adalah Praemium Imperiale pada tahun 2015. Ia juga terpilih sebagai anggota Japan Art Academy, dan penghargaan Person of Cultural Merit pada tahun 2023. Menggelar pameran tunggal River of Renga di Setagaya Art Museum, Tokyo, pada tahun 2025.
[Informasi Pameran]
Tadanori Yokoo: River of Renga
Waktu: Sabtu., Apr. 26 hingga Minggu., Jun. 22, 2025
Venue: Setagaya Art Museum
Lokasi: 1-2 Kinuta-koen, Setagaya-ku, Tokyo 157-0075
Official Site
Editor: Takeshi Kikuchi(HYPEBEAST)
Translasi (Global): Maya Nago
Kontributor: Rokugo Arisaka (HYPEBEAST)
Fotografer: Ryohei Obama
TOP